PERKEMBANGAN KANAK-KANAK AWAL
1.
PERKEMBANGAN FISIK
A.
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TUBUH
Perubahan fisik yang
secara nyata menandai masa kanak-kanak awal adalah pertumbuhan didalam hal
tinggi dan berat tubuh. Secara tidak sadar pada masa ini juga terjadi perubahan
didalam otak dan sistem saraf yang penting bagi perkembangan kognisi dan bahasa
anak-anak.
1.
Tinggi dan Berat
Perubahan yang nyata dan tampak jelas pada anak-anak usia
kanak-kanak awal adalah pertumbuhan dalam hal tinggi dan berat badan. Di masa
kanak-kanak awal, rata-rata anak bertambah tinggi 2,5 inci dan bertambah berat
5-7 pon setiap tahunnya. Selama usia ini, anak-anak baik itu laki-laki maupun
perempuan akan terlihat kurus karena tungkai mereka yang bertambah tinggi,
namun umumnya tubuh anak perempuan sedikit lebih kecil dan lebih ringan jika
dibandingkan dengan tubuh anak laki-laki.
Ukuran besar kepala juga
mengalami perubahan, terutama di akhir usia prasekolah. Tulang, otot, dan lemak
tubuh juga mengalami perubahan. Dengan perubahan yang banyak tersebut, maka
akan memungkinkan seorang anak yang tadinya gemuk pendek tiba-tiba berubah
menjadi kurus dan ramping, atau yang awalnya tidak mampu bicara menjadi fasih
dan lancar. Namun perlu diingat bahwa setiap perubahan di atas bervariasi untuk
setiap anak. Variasi tersebut dipengaruhi hal-hal seperti oleh status sosial
ekonomi, gizi, kesehatan, dan faktor keturunan.
2.
Otak
Salah
satu perkembangan fisik terpenting dimasa kanak-kanak awal adalah perkembangan
otak dan berbagai bagian lain dari sistem saraf secara terus menerus. Meskipun
perkembangan otak yang berlangsung dimasa kanak-kanak awal tidak secepat
seperti yang berlangsung dimasa bayi, perkembangan ini menghasilkan perubahan
anatomi yang berarti. Ketika anak berusia tiga tahun, ukuran otak ¾ ukuran otak dewasa. Ketika berusia
enam tahun, otak telah mencapai sekitar 95% ukuran otak dewasa sehingga otak
anak berusia lima tahun hampir menyerupai ukuran otak anak tersebut ketika
dewasa.
Perkembangan otak pada usia
ini berbeda antara belahan otak kanan dengan belahan otak kiri, dimana belahan
otak kiri lebih berkembang penuh dibandingkan perkembangan otak kanan.
Perkembangan otak ini berpengaruh terhadap kecenderungan penggunaan salah satu
tangan yang dominan dibanding yang lainnya (handedness). Anak laki-laki lebih
cenderung bertangan kidal dibandingkan anak perempuan.
B.
PERKEMBANGAN MOTORIK
Yaitu sebagian besar
anak-anak akan mengalami keaktifan yang sama sepanjang hidup mereka.
1.
Keterampilan Motorik Kasar
Seorang
anak tidak lagi berusaha keras hanya untuk berdiri tegas dan berjalan keliling.
Ketika anak dapat melangkahkan kakinya secara lebih yakin dan bertindak deangan
tujuan tertentu, dengan sendirinya anak akan melakukan aktifitas keliling
dilingkungannya. Ketika berusia 3 tahun anak-anak gemar melakukan
gerakan-gerakan sederhana seperti meloncat serta berlari kedepan dan
kebelakang, semua ini dilakukan untuk sekedar menyenangkan hati ketika
menampilkan aktifitasnya.
Pada
usia 4 tahun anak-anak masih menikmati berbagai aktifitas sejenis, namun kini
mereka menjadi lebih berani. Mereka memanjat alat gymnasium yang rendah untuk
memperlihatkan kemampuan atletiknya.
2.
Keterampilan Motorik Halus
Diusia
3 tahun kadang-kadang anak-anak sudah mampu memungut objek-objek yang
paling kecil dengan menggunakan ibi jari dan telunjuknya, meskipun masih
canggung. Seorang anak 3 tahun secara tidak sangka dapat membangun menara yang
tinggi dengan menggunakan balok
Pada
usia 4 tahun koordinasi motorik halus anak sudah memperlihatkan kemajuan
yang bersifat substansial dan ia juga menjadi lebih cermat.
C.
TIDUR
Para
ahli merekomondasikan agar anak-anak tidur selama 11 hingga 13 jam setiap malam.
sebagian besar anak-anak kcil tidur sepanjang malamdan satu kali tidur siang.
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa penolakan terhadap waktu tidur berkaitan
dengan masalah prilaku atau hiperaktifitas pada anak-anak. Anak-anak dapat
mengalami sejumlah masalah tidur, termasuk narcolepsy (rasa mengantuk yang
extrem disiang hari), isomnia (sulit tidur atau selalu terjaga), dan mimpi
buruk.
D.
NUTRISI DAN OLAHRAGA
kebiasaan makan merupakan aspek yang penting bagi perkembangan dimasa
kanak-kanak awal . segala sesuatu yang dimakan oleh anak mempengaruhi
pertumbuhan kerangka tulang, bentuk tubuh, dan kerentanan terhadap penyakit.
Olahraga dan aktifitas fisik pun penting dalam kehidupan anak-anak.
1.
Anak yang kegemukan
Kelebihan
berat tubuh dapat menjadi masalah yang serius dimasa anak-anak awal. Studi
nasional terbaru mengungkap bahwa 45% menu makanan anak-anak terlalu banyak
mengandung lemak transgenik dan lemak jenuh, yang dapat meningkatkan kadar
kolesterol dan resiko penyakit jantung. Perilaku makan anak-anak sangat
dipengaruhi oleh perilaku orang tua mereka. Perilaku makan anak-anak membaik
ketika orang tua makan bersama anak-anak mereka dengan jadual tertentu, makan
sehat, menjadikan suasana makan menyenangkan, dan melakukan berbagai gaya dalam
membuat makanan. Berbagai gangguan seperti televisi, argumentasi keluarga, dan
aktivitas persaingan harus dikurangi agar anak-anak berfokus pada kegiatan
makan.
2.
Olahraga
Aktifitas
yang rutin sebaiknya dilakukan sehari-hari bagi anak-anak. Rekomendasi bagi
aktifitas fisik anak adalah 2 jam perhari, tediri dari 1 jam aktifitas
terstruktur dan 1 jam aktifitas yang tidak terstruktur. Berikut adalah studi
penelitian terbaru yang mempelajari olahraga dan aktifitas anak:
Ø Observasi
anak-anak prasekolah usia 3 hingga 5 tahun selama bermain diluar ruangan
mengungkap bahwa anak-anak praseakolah sebagian besar hanya bersantai bahkan
ketika bermain di luar ruangan.
Ø Aktivitas
fisik anak-anak prasekolah di perkuat oleh keterlibatan anggota keluarga dalam
kegiatan berolahraga bersama dan oleh persepsi orang tua bahwa anak-anak aman
bermain diluar rumah.
Ø Kurikulum
aktivitas fisik yang memadukan ‘’bermain dan belajar’’ meningkatkan level
aktivitas anak usia 3 hingga 5 tahun di program prasekolah setengah hari.
3.
Malnutrisi pada Anak-anak dari Keluarga dengan Sosial-Ekonomi Rendah
Salah
satu masalah nutrisi yang paling umum dihadapi kanak-kanak awal adalah masalah
anemia yang terkait dengan kekurangan zat besi, dimana kondisi nini mengakibatkan
kelelahan kronis. Masalah ini di sebabkan oleh kurangnya konsumsi daging dan
sayuran hijau. Bebanyakan anak-anak kecil yang berasal dari keluarga dengan
tingkat penghasilan rendah cenderung mengalami anemia yang terkait dengan
kekurangan zat besi.
E.
PENYAKIT DAN KEMATIAN
Di
Amerika Serikat, kecelakaan kendaraan bermotor menjadi penyebab terbesar dari
kematian anak-anak, disusul oleh kanker dan penyakit pembuluh jantung (National
Vital Statistics Reports, 2004). Disamping itu, juga terdapat kematian yang
disebabkan oleh kecelakaan lainnya, seperti tenggelam, jatuh, luka bakar, dan
keracunan (Bessey dkk, 2006).
Salah
satu keadaan rumah yang membahayakan kesehatan anak-anak adalah orang tua yang
merokok. Hampir 22% dari anak-anak dan remaja di amerika serikat terekpose asap
tembakau dirumah. Kini semakin banyak studi yang menyatakan bahwa anak-anak
memiliki resiko untuk mengalami masalah kesehatan jika mereka tinggal di rumah
yang orang tuanya merokok. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa paparan asap
rokok terkait dengan gangguan tidur anak-anak, termasuk gangguan pernapasan
ketika tidur. Diperkirakan sekitar 3 juta anak-anak di AS dengan usia dibawah 6
tahun beresik terkena racun timah. Selain keracunan timah, anak-anak dari
keluarga sosial-ekonomi rendah di AS menghadapi masalah kesehatan lainnya dan
sering kali tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, ketika orang tua
mereka tidak memiliki asuransi kesehatan. Anak-anak dari keluarga miskin
memiliki angka kecelakaan, kematian, dan penyakitasma yang lebih tinggi
daripada anak-anak dari keluarga berpenghasilan tinggi.
F.
KONDISI SAKIT DAN SEHAT DARI ANAK-ANAK SEDUNIA
Setiap
tahun UNICEF memberikan sebuah sebuah laporan yang berjudulThe State of the
world children. Dampak mematikan dari kesehatan anak-anak terjadi di
negara-negara dengan tingkat kemiskinan yang tinggi ( UNICEF 2010) orang miskin
menjadi mavoritas di hampir satu dari setiap lima negara didunia. Kematian
anak-anak diseluruh dunia dapat dicegah dengan mengurangi kemiskinan dan meningkatkan
nutrisi, sanitasim pendidikan, serta layanan kesehatan (UNICEF 2006, 2010).
2.
PERKEMBANGAN KOGNITIF
Pembahasan mengenai
perkembangan kognitif di masa kanak-kanak awal memfokuskan pada tiga teori:
teori piaget, teori vygotsky, dan teori pemrosesan informasi.
A.
TAHAP PRAOPRASIONAL PIAGET
Tahap
Praoperasional (preoperational stage), yang berlangsung dari usia 2 hingga 7
tahun, tahap kedua menurut piaget. Dalam tahap ini, anak-anak mulai
merepresentasikan dunia dengan menggunakan kata-kata. Pada saat yang bersamaan,
dunia kognitif anak kecil didominasi oleh egosentrisme keyakinan magis.
Karena
oleh Piaget tahap ini disebut “praoperasional”, maka seolah-olah periode ini
merupakan periode menunggu yang tidak penting. Hal ini tidak benar. Meskipun demikian,
lebel praoperasional memberi penekanan bahwa anak belum melakukan operasi
(operation), yaitu aktivitas mental yang baik, yang memungkinkan anak-anak
untuk membayangkan hal-hal yang dulunya hanya dapat dilakukan secara fisik.
1.
Subtahap Fungsi Simbol
subtahap
fungsi simbolik (symbolik funcion substage) merupakan subtahap pertama dari
pemikiran paroprrasional, yang terjadi antara usia 2 hingga 4 tahun. Dalam
subtahap ini, anak kecil memeperoleh kemampuan untuk membayangkan
penampilan objek yang hadir secara fisik. Kemampuan ini secara cepat dapat
memperluas dunia mental anak (carlson & zelazo ,2008). Anak-anak kecil
menggunakan coretan coretan untuk mereprentasikan manusia, rumah,mobil,
awan,dan sebagainya; mereka mulai menggunakan bahasa dan terlibat dalam
permainan pura-pura. Meskipun di dalam sub-tahap ini anak-anak kecil sudah
membuat kemajuan yan g berarti, pemikiran mereka masih terbatas; dan bentuk
keterbatasan ini adalah egosentrisme dan animisme.
1.a
Egosentrisme
Egosentrisme
(egosentrism) adalah ketidak mampuan membedakan antara perspektifnya
sendiri dan perspektif orang lain. Piaget dan Barbel Inhelder
(1969) awalnya mempelajari egoseantersme anak-anak kecil dengan
membagi tugas mengenai tiga gunung.
1.b
Animisme
Animisme
(animism), keterbatasan lain dari pemikiran praopresional, adalah keyakinan
bahwa benda-benda mati memiliki kualitas yang seolah-olah hidup dan mampu
bereaksi. Seorang anak kecil mungkin memperlihatkan animisme ketika
mengatakan,’’Pohon itu mendorong daun , sehingga pohonnya jatuh,’’ atau’’
Trotoar itu membuat saya marah; tritoaritu membuat saya jatuh .’’ seorang anak
kecil yang mengunakan animisme sulit membedakan antara peristiwa-peristiwa yang
tepat bagi penggunaan perspektif manusia dan bukan manusia.
Hal itu mungkin disebabkan anak-anak kecil tidak terlalu menatuh perhatian pada
realitas; hasil gambar mereka bersifat khayalan dan berdaya-cipta.
Matahari yang berwarna biru, langit yang berwarna kuning , dan mobil yang
melayang di awan, semuanya adalah dunia simbolis dan imajinatifnya. Seorang
anak tiga setengah tahun melihat hasil coretannya yang baru saya selesai
digambarnya kemudian mendeskripsikannya sebagai seekor
perilaku yang sedang mencium seekor anjing laut.
1.c
Subtahap Berpikir Intutif
Subtahap
berpikir intuitif adalah subtahap kedua dari berpikir prapresional dan
berlangsung ketika anak berusia antara 4 hingga 7 tahun. Pada
subtahap ini anak-anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin
mengetahui jawaban terhadap setiap jenis pernyataan. Seorang anak yang berusia
4 tahun dan berada di subtahap berfikit intutif. Meskipun ia mulai
mengembangkan ide-idenya sendiri mengenai dunia dimana ia tinggal, idenya masih
sederhana , dan ia belum terlalu baik dalam menyelesaikan masalah .Ia memiliki
kesulitan dalam memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi namun tidak bisa
melihatnya.
Pemusatan dan Keterbatasan Pemikiran Praopresional salah satu adalah pemusatan,
yakni memusatkan atensi pada sebuah katakteristik sehingga mengesampingkan
karakteristik lainnya. Pemisatan adalah gejala yang paling jelas muncul pada
anak-anak kecil yang belum memiliki konserfasi , yakni kesadaran bahwa mengubah
suatu objek atau suara substansi tidak mengubah properti dasarnya . sebagai
contoh , orang dewasa pasti memahami betul bahwa cairan akan tetap sama
meskipun bentuk wadahnya berbeda . hal ini tidak jelas bagi anak-anak
kecil,mereka justru terpaku pada ketinggian cairan yang berada dalam wadah;
mereka memfokuskan karakteristik wadah sehingga mengesampingkan karakteristik
lainnya.
B
.TEORI VYGOTSKY’S
Teori
Piaget merupakan teori perkembangan yang utama. Teori perkembangan lain yang
berfokus koqnisi anak-anak adalah teori vygotsky’s. seperti piaget vygotsky
(1962) menekankan bahwa anak-anak secara aktif membangun pengetahuan dan
pemahamannya. Sedangkan menurut teori piaget anak-anak mengembangkan cara
berfikir dan memahami melalui tindakan dalam interaksi mereka dengan dunia
secara fisik. Perkembangan koqnitif anak tergantung pada perangkat yang disediakan
oleh lingkungan , dan pikiran mereka dibentuk oleh konteks kultural di mana
mereka tinggal (Gredler, 2008; Holzman, 2009). Di bab 1, kami mendeskripsikan
beberapa gagasan dasar mengenai teori vygotsky’s disini kita akan melihat lebih
dekat ide-ide tentang pandangan mengenai peran bahasa dalam perkembangan
koqnitif.
1.
Zona Perkembangan Proksimal
Keyakinan
vygotsky’s mengenai pentingnya pengaruh-pengaruh sosial khususnya instruksi
dalam perkembangan koqnitif anak-anak tercermin didalam kosepnya yaitu zona
perkembagan proksimal. Dengan istilah rentang tugas-tugas yang terlalu sulit
bagi anak untuk dikuasai sendiri nnamun dapat dipelajari melalui bimbingan atau
bantuan dari orang dewasa atau anak-anak yang lebih terampil. ZPD menangkap
keterampilan koqnitif anak yang berada didalam proses pematangan dan dapat
dicapai melalui bantuan dari orang dari orang yang lebih terampil.
2.
Scaffolding
Scaffolding
berarti mengubah level dukungan. Sepanjang sesi pengajaran, seorang yang lebih
terampil (guru atau kawan yang lebih pandai) dapat menyesuaikan besarnya
bimbingan yang diberikan, dengan prestasi anak. Ketika siswa mempelajari suatu
tugas baru, orang yang terampil dapat menggunakan intruksi langsung. Seiring
dengan meningkatnya kompetensi siswa, bimbingan dapat dikurangi.
3. Bahasa
dan Pemikiran
Menurut
vygotsky, tujuan dari percakapan yang dilakukan anak-anak sebetulnya tidak
hanya untuk melakukan komunikasi sosial namun juga untuk membantu mereka dalam
menyelesaikan tugas. Penggunaan bahasa untuk meregulasi diri ini disebut
private speech. Dalam pandangan piaget, private speech merupakan sesuatu yang
bersifat egosentris dan tidak matang, namun bagi vygotsky private speech
merupakan sarana berpikir yang penting dimasa kanak-kanak awal.anak-anak harus
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka dapat
berfokus ke dalam pikiran-pikiran mereka sendiri. Anak-anak juga harus
berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa selama periode waktu yang
lama, sebelum akhirnya mereka mampu melakukan transisi ini terjadi antara usia
3 higga 7 tahun dan mencakup berbicara pada diri sendiri.
Vygotsky
berkeyakinan bahwa anak-anak yang menggunakan private speech dalam jumlah
banyak adalah anak-anak yang lebih memiliki kompetensi sosial dibandingkan
mereka yang tidak. Para peneliti juga telah menemukan bahwa anak-anak yang
menggunakan private speech menjadi lebih perhatian dan meningkat prestasinya
dibandingkan anak-anak yang tidak menggunakan private speech.
4. Strategi
pengajaran
Berikut adalah beberapa
cara dimana teori vigotsky dapat digunakan didalam kelas:
Ø Menilai
ZPD anak. Seperti Piaget, Vygotsky tidak merekomendasi tes-tes formal dan
terstandardisasi sebagai cara terbaik dalam menilai kegiatan pembelajaran
anak-anak. Seorang pelatih yang terampil akan menyajikan kepada anak
tugas-tugas dengan kesulitan yang bervariasi untuk menentukan level yang
terbaik dalam memulai intruksi.
Ø Menggunakan
zona perkembangan proksimal dalam mengajar. Mengajar sebaiknya dimulai dengan
mengarah daerah batas atas, supaya anak dapat meraih sasaran melalui bantuan
serta beranjak ke level keterampilan dan pengetahuan yang lebih tinggi. Anda
dapat memperhatikan dan menghargai latihan anak atau menawarkan dukungan ketika
anak lupa apa yang harus diperbuat.
Ø Menggunakan
kawan-kawan sebaya yang lebih terampil sebagai guru. Anak-anak juga memperoleh
keuntungan melalui dukungan dan bimbingan yang diberikan oleh anak-anak yang
lebih terampil.
Ø Tempatkan
intruksididalam konteks yang bermakna. Kini para pendidik sudah meninggalkan
penyajian materi secara abstrak, kini mereka lebih banyak menyediakan
kesempetan untuk memperoleh pengalaman belajar didalam lingkungan dunia yang
nyata.
Ø Mengubah
ruang kelas dengan ide-ide Vygotsky. Anak-anak dapat membaca suatu cerita
kemudian menginterpretasikan artinya. Sebagian besar aktivitas itu dilakukan
dalam kelompok kecil.
C.
PEMROSESAN INFORMASI
Belakangan ini, pendekatan pemrosesan informasi telah menghasilkan riset yang
memberikan penerangan mengenai bagaimana anak-anak memproses informasi di masa
prasekolah.
1.
Atensi
Kemampuan
anak untuk memberikan perhatian meningkat secara signifikan selama masa
prasekolah . anak kecil yang baru belajar berjalan, berkeliling disekitarnya,
mengalihkan perhatian dari akivitas yang stu ke aktivitas lainnya, dan tampak
bahwa perhatiannya pada objek atau peristiwa apa pun hanya berlangsung
sebentar.
2.
Memori
Memori
atau ingatan mengenai informasi sepanjang waktu merupakan sebuah proses yang
utama didalam perkembangan kognitif anak-anak. Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi ketepatan memori seorang anak kecil:
Ø Terdapat
perbedaan usia berkaitan dengan kepekaan anak terhadap sugesti. Anak-anak
prasekolah adalah kelompok usia yang paling mudah disugesti dibandingkan
anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa.
Ø Perbedaan
individual dalam kepekaan. Beberapa anak prasekolah sangat resisten terhadap
sugesti dari pewawancara, sementara anak-anak lainnya langsung menerima sugesti
kecil sekalipun.
Ø Teknik-teknik
wawancara dapat menagakibatkan distorsi yang bersifat substansial dalam laporan
anak mengenai peristiwa-peristiwa yang sangat mencolok. Sugesti anak-anak
tidaklah hanya yang berkaitan dengan detail-detail yang bersifat pemukaan saja,
namun juga mengenai aspek-aspek sentral dari suatu peristiwa.
Ø Singkatnya,
benar tidaknya kesaksian yang diberikan oleh anak-anak kecil, tergantung pada
sejumlah faktor seperti, tipe, jumlah, dan intensitas dari teknik-teknik
sugesti yang telah dialami anak. Tampaknya reliabilitas dari laporan anak-anak
kecil memiliki kaitan erat dengan keterampilan dan motivasi dari pewawancara
maupun daengan keterbatasan alamiah dalam memori anak kecil.
3.
Strategi dan Pemecahan Masalah
Strategi
terdiri dari aktivitas mental yang dilakukan secara sengaja untuk meningkatkan
pemrosesan informasi.Selama masa kanak-kanak awal, anak-anak yang baru mulai
berjalan dan mudah digerakan oleh stimulus itu, berubah menjadi seorang anak
yang cakap, fleksibel,dan memecahkan masalah secara terarah. Jika seorang anak
berusia 3 hingga 4 tahun gagal memahami bahwa kita di mungkinkan memberikan
berbagai deskripsi terhadap stimulus yang sama, mereka akan terus bertahan
untuk mendeskripsikan stimulus itu sebagai pengetahuan awalnya.
3.a
PERUBAHAN PERKEMBANGAN
Theory
of mind anak-anak berubah sejalan dengan perkembangan mereka dimasa
kanak-kanak. Beberapa perubahan terjadi dimasa-masa awal perkembangan. Dari
usia 18 bulan hingga 3 tahun, anak-anak mulai memahami tiga kondisi mental:
Ø Persepsi
Ketika
berusia 2 tahun, anak menyadari bahwa orang lain melihat apa yang ada didepan
mata mereka dan bukan apa yang ada didepan mata anak itu, dan pada usia 3
tahun, anak menyadari bahwa anak melihat menjadikannya mengetahui apa yang ada
didalam sebuah kotak mainan.
Ø Emosi
Anak
mampu membedakan antara emosi-emosi positif dan emosi-emosi negatif. Seorang
anak mungkin mengatakan “tomi merasa sedih”.
Ø Keinginan
Semua
manusis memiliki keinginan. Namun, kapankah anak mulai menyadari bahwa orang
lain mungkin berbeda dengan keimginannya? Anak balita memahami bahwa seandainya
seseorang menginginkan sesuatu, orang itu akan mencoba mendapatkannya.
Seorang
anak usia 2 hingga 3 tahun memahami bagaimana keinginan memiliki kaitan dengan
aksi dan emosi-emosi sederhana. Anak-anak lebih sering dan lebih dulu mengacu
pada keinginan daripada pernyataan kognitif seperti pemikiran dan pengetahuan.
Antara
usia 3 hingga 5 tahun, anak-anak mulai memahami bahwa pikiran dapat
merepresentasikan objek-objek dan peristiwa-peristiwa secara akurat maupu tidak
akurat. Dalam sebuah studi klasik mengenai keyakinan yang keliru, anak-anak
kecil diperlihatkan sebuah kotak plester vdan diminta untuk menebak isinya. Namun,
terdapat banyak alasan untuk mempertanyakan fokus momen penting ini dalam
perkembangan theory of mind. Setelah usia prasekolah anak-anak memiliki
apresiasi mendalam terhadap pikiran dan tidak sekedar memehami kondisi mental.
Mereka juga mualai berkembang dari hanya sekedar memahami bahwa keyakinan dapat
keliru, menjadi mampu menyadari bahwa peristiwa yang sama dapat terbuka
terhadap berbagai interprestasi.
Meskipun
sebagian besar peneliti theory of mind berfokus anak-anak pada sekitar atau
sebelum usia prasekolah, pada usia 7 tahun dan sesudahnya terdapat perkembangan
penting dalam kemampuan memahami keyakinan dan pemikiran orang lain. Memahami bahwa
orang akan memiliki interpretasi yang berbeda itu penting, demikian pula dengan
mengetahui bahwa beberapa interprestasi dan keyakinan harus dievaluasi
berdasarkan aargumen dan bukti-bukti. Dimasa remaja awal, anak-anak mulai
memahami bahwa orang dapat memiliki perasaan ambivalen. Mereka akan mulai
mengetahui bahwa orang yang sama dapat merasa senang sekaligus sedih mengenai
suatu kejadian. Anak-anak juga lebih terlibat dalam pemikiran rekursif:
memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.
3.b
PERBEDAAN INDIVIDUAL
Sebagaimana
dalam penelitian perkembangan lainnya, terdapat perbedaaan individual dalam
kapan anak-anak mencapai tahapan tertentu pada theory of mind mereka. Sebagai
contoh anak-anak yang berkomunkasi kepada orang tuanya tentang perasaan mereka
ketika berusia 2 tahun biasanya menunjukan performa yang baik dalam tugas-tugas
theory of mind, demikian pula dengan anak-anak yang sering melakukan permainan
peran.
3.
PERKEMBANGAN BAHASA
Anak
berusia dibawah tiga tahun memperlihatkan perkembangan yang agak cepat dari
awalnya hanya mampu menghasilkan ungkapan dua kata, menjadi mampu mengabungkan,
empat, dan lima kata. Ketika anak-anak kecil mempelajari fitur-fitur spesial
bahasanya sendiri, terdapat keteraturan dalam cara mereka memperoleh bahasa
tertentu.
A.
MEMAHAMI FOMOLOGI DAN MORFOLOGI
Selama
masa prasekolah, kebanyakan anak-anak secara bertahap menjadi lebih sensitif
terhadap bunyi dari kata-kata yang diucapkan dan menjadi semakin mampu
menghasilkan semua bunyi dari bahsa mereka. Ketika pemahaman sudah melampaui
ungkapan yang terdiri dari dua kata mereka mendemonstrasikan pengetahuan
mengenai morfologi. Beberapa bukti terbaik yang memperlihatkan perubahan
anak-anak dalam menggunakan aturan-aturan morfologi adalah dalam
overgeneralisasi mereka terhadap aturan-aturan, seperti ketika seorang anak
prasekolh mengatakan “foot” dan buka “feet” atau “goet” dan bukan “went”.
Dalam
sebuah eksperimen klasik yang dirancang untuk mempelajari ilmu pengetahuan
anak-anak mengenai aturan-aturan morfologi, seperti bagaimana membuat kata
jamak (plura) , jeanberko (1958) menyajikan kartu-kartu kepada mereka. Tugas
ini mungkin tampaknya mudah, namun berko tertarik pada kemampuan ank-anak untuk
mengaplikasikan morfologis yang sesuai, dalam kasus ini adalah untuk mengatakan
“wugs” dengan bunyi z yang mengindikasikan plural. Meskipun jawaban anak-anak
tidak sempurna, jawaban itu bukan hanya bersifat kebetulan saja. yang membuat
study berko mengesankan adalah kata-kata itu disusun untuk eksperimen. Dengan
demikian, anak-anak tidak dapat mendasarkan respons mereka pada ingatan
terdapat kata-kata yang pernah didengar dimasa lalu.
1.
Perubahan Dalam Sintaksis dan Semantik
Anak-anak
prasekolah juga mempelajari dan menerapkan aturan-aturan sintaksis mereka
memperlihatkan kemajuan dalam menguasai aturan-aturan komppleks yang berkaitan
dengan cara mengurutkan kata-kata. Ambil saja contoh pertanyaan wh
seperti(where is daddy going? Kemana ayah pergi) atau (what is that boy going?)
apa yang dilakukan anak laki-laki? Masa kanak-kanak awal juga ditandai oleh
adanya pemahaman mengenai semantik. Beberapa ahli menyimpulkan bahwa antara
usia 8 bulan hingga 6 tahun anak-anak kecil belajar mengenai sebuah kata baru
setiap jam (kecuali ketika tidur), (gelman dan kalis, 2006). Ketika mereka memasuki
kelas satu sekolah dasar diperkirakan anak-anak sudah mengenal 1400 kata
(clark, 1993).
2.
Kemajuan Dalam Pragmatik
Didalam
perkembangan bahsa aank-anak kecil juga terjadi perubahan pragmatik
dibandingkan anak-anak usia dua tahun, seorang anak berusian 6 tahun memiliki
kemampuan bercakap-cakap yang jauh lebih baik. Seiring dengan bertambahnya
usia, anak0 anak mejadi lebih mampu membicarakan hal-hal yang tidak terlihat
dihadaannya (misalnya rumah nenek) dan bukan terjadi sekarang (misalnya apa
yang terjadi kemaren atau apa yang terjadi besok). Ketika berusia 4-5 tahun,
anak belajar mengubah gaya bicara mereka agar sesuai dengan situasinya demikian
pula anak-anak itu akan menggunakan gaya yang berbeda nterhadap orang dewasa,
yaitu dengan kalimat yang lebih sopan dan formal.
3.
Literasi Anak-anak Kecil
Para
orang tua dan guru perlu memberikan dukungan kepada nak-anak agar dapat
mengembangkan kemampuan literasinya (Cristie, Enz, dan Vukelickh, 2011; Reese
Sparek dan Leyva 2010). Anak-anak harus menjadi partisipan yang aktif dan larut
dalam berbagai pengalaman mendegar, berbicara, membaca, dan ,enulis yang
menarik. Suatu study mengungkap bahwa anak-anak yang ibunya bependidikan lebih
memiliki tingkat literasi yang tinggi daripada anak-anak yang ibunya kurang
berpendidikan. Instruksi harus dibangun atas apa yang telah diketahui oleh
anak-anak mengenai bahasa lisan, membaca, dan menulis. Lebih jauh, keberasilan
literasi dan akademis anak-anak didahului oleh keterampilan berbahasa,
pengetahuan fonologi dan sintaksis, identifikasi surat, serta pengetahuan konseptual
mengenai media cetak dan fungsinya(morrow 2009; 0tt0 2010). Keterampilan bahasa
dan kesiapan memasuki sekolah bagi anak-anak:
Ø Kesadaran
fonologi, nama huruf dan pengetahuan mengenai bayi, serta kecepatan memberi
nama pada anak berusia taman kanak-kanak berkaitan dengan keberhasilan membaca
ditingkat pertama dan kedua.
Ø Lingkungan
rumah di masa kanak-kanak awal memengaruhi keterampilan berbahasa, sehingga
dapat memprediksi kesiapan anaka-anak dalam memasuki sekolah.
Ø Jumlah
huruf yang diketahui oleh anak-anak di masa taman kanak-kanak sangat
berkorelasi (0,52) dengan prestasi membaca di sekolah menegah atas.
Kemajuan berbahasa yang terjadi dimasa kanak-kanak awal menjadi dasar
perkembangan di masa sekolah dasar.
4.
PENDIDIKAN DI MASA KANAK-KANAK AWAL
Dalam
banyak cara, pendekatan reggio-emilia menerapkan gagasan-gagasan yang konsisten
dengan pandangan piaget dan vygotsky sebagaimana yang di diskusikan didalam bab
ini. Penjelasan kami mengenai masa kanak-kanak awal berfokus variasi program,
pendidikan bagi anak-anak yang tidak beruntung, serta beberapa kontroversi
pendidiksn dimasa kanak-kanak awal.
A.
Variasi didalam pendidikan masa kanak-kanak awal
Dasar
dari pendidikan masa kanak-kanak awal adalah taman kanak-kanak yang berpusat
pada anak. Ditaman kanak-kanak yang berpusat pada anak, pengasuh masih
merupakan hal yang penting. Taman kanak-kanak seperti ini menekankan pendidikan
secara keseluruhan dan menaruh perhatian pada perkembangan fisik, kognitif, dan
sosialemosi anak-anak. Taman kanak-kanak yang berpusat pada anak
mempertahankan tiga prinsip: setiap anak mengikuti sebuah perkembanangan yang
unik; anak-anak kecil secara terbaik belajar melalui pengalaman langsung dengan
berbagai orang dan materi dan bermain merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan
anak secara total.
5. PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL
Perkembangan emosi dan sosial anak usia prasekolah ditentukan oleh kualitas
hubungan anak dan keluarga.
Gaya pengasuhan yang berbeda pada setiap orangtua akan mempengaruhi.
a. Kepribadian
anak
b. Kegiatan
bermain
A. KELUARGA
Hal-hal yang
mempengaruhi perkembangan emosi dan sosial dalam keluarga :
Ø
Gaya pengasuhan
Gaya pengasuhan orang tua, secara
relatif stabil untuk jangka waktu yang cukup lama.
Ø
Hubungan Antar
Saudara
Hubungan anak dengan orangtua
lebih positif dan bervariasi dari pada dengan saudara kandung.
Ø
Keluarga yang berubah
Tak selalu keluarga utuh. Perceraian menyebabkan
keluarga berubah. Kondisi-kondisi yang membawa pengaruh terhadap perkembangan
sosial anak :
Ø
Perceraian
Perceraian adalah peristiwa yang
sangat emosional dan membenamkan anak ke dalam konflik.
B. TEMAN SEBAYA
Salah satu fungsi
terpenting teman sebaya adalah sebagai sumber informasi dan bahan pembanding di
luar lingkungan keluarga.Melalui teman anak memperoleh umpan balik tentang
kemampuan yang dimilikinya.
C. BERMAIN
Bermain merupakan hal
yang essensial bagi kesehatan anak. Adapun manfaat bermain adalah :
Ø
Meningkatkan
kerjasama, tanggung jawab.
Ø
Menghilangkan
ketegangan
Ø
Meningkatkan
perkembangan kognitif
Ø
Meningkatkan
eksplorasi
Ø
Memperluas kesempatan
bagi anak untuk mengobrol dan berinteraksi dengan teman sebaya.
PERKEMBANGAN
KANAK-KANAK AKHIR
6.
PERKEMBANGAN FISIK
A.
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TUBUH
1.
Tinggi dan Berat
Perkembangan
fisik pada masa kanak-kanak tengah-akhir tidak secepat pada masa-masa awal.
Perbedaan yang besar muncul dalam tinggi dan berat. Anak-anak tumbuh sekitar
5-8 cm tiap tahunnya antara usia 6 dan 11 tahun dan berat badan meningkat
kira-kira dua kali lipat selama pada masa ini. Anak perempuan mempertahankan
sedikit lebih banyak lapisan lemak dari pada anak laki-laki, suatu
karakteristik yang akan bertahan sampai masa dewasa.
2. Otak
Salah satu yang terpenting
dalam pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa ini adalah pertumbuhan otak
dan system syaraf. Otak dan kepala merupakan bagian yagn tumbuh paling cepat.
Meningkatnya ukuran otak disebabkan oleh peningkatan jumlah dan ukuran
syaraf-syaraf dalam, dan diantaranya bagian-bagian otak. Peningkatan ukuran
otak disebabkan oleh peningkatan mielinisasi yaitu proses dimana sel-sel syaraf
dilapisi dan diisolasi oleh sebuah lapisan sel-sel lemak, efeknya dapat
meningkatkan kecepatan dan ketepatan penyaluran informasi melalui system
syaraf. Mielinisasi penting bagi pendewasaan anak, peningkatan kematangan otak
dikombinasikan untuk memperoleh pengalaman dan pemunculan kemampuan kognitif.
3.
Perkembangan Motorik Kasar
Kemampuan
anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik
kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh digunakan oleh
anak untuk melakukan gerakan tubuh. Perkembangan motorik kasar dipengaruhi
oleh proses kematangan anak. Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka
laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda dengan anak lainnya.
4. Perkembangan Motorik Halus
Adapun
perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan
otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu. Perkembangan pada
aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih.
Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok, termasuk contoh gerakan
motorik halus.
7.
PERKEMBANGAN KOGNITIF
Menurut
Piaget (1952) masa kanak-kanak adalah masa praoperasional. Anak-anak prasekolah
membentuk konsep yang stabil, dan mereka memulainya dari akal, tetapi pikiran
mereka rusak karena egosentris dan sistem kepercayaan magis.
A.
PENDEKATAN PIAGET: OPERASIONAL KONKRET
Piaget
mengemukakan bahwa tahap operational
concrete terbentuk kira-kira pada usia 7-11 tahun. Pada tahap ini,
anak-anak dapat melakukan operasi konkrit, dan berpikir secara logika selama
dapat diaplikasikan secara spesifik ataupun contoh yang spesifik. Ingat bahwa
operasi adalah tindakan mental yang bersifat reversibel, dan operational concrete dapat diaplikasikan
secara nyata, benda-benda konkrit.
Sesuai
dengan contoh mengenai operational
concrete dimana sebuah 2 bola lilin dibentuk dalam bentuk yang berbeda
tetapi tetap memiliki jumlah yang sama. Bola pertama dibentuk tipis dan yang
kedua dibentuk tetap. Anak-anak pada usia kanak-kanak awal mengatakan bahwa
yang berbentuk tipis lebih banyak daripada yang berukuran bulat, sedangkan
anak-anak masa akhir mengatakan keduanya memiliki jumlah yang sama. Untuk menjawab
permasalahan secara tepat, anak- anak harus mengimajinasikan lilin tersebut di
rolling menjadi bulat. Tipe imajinasi ini melibatkan action mental reversible ke realita dan objek konkret. Concrete operations memungkinkan anak
untuk mempertimbangkan beberapa karakterisktik daripada berfokus pada satu dari
obyek tersebut. Pada contoh lilin tersebut, anak – anak hanya berfokus pada
tinggi dan lebar dari benda sedangkan pada anak – anak concrete preoperational mendapatkan informasi dari kordinat dari
berbagai dimensi.
Anak
yang telah mencapai tahap concrete
operational juga mampu dalam seriation,
dimana kemampuan tersebut mampu menstimulasi sepanjang dimensi kuantitatif
(contohnya panjang). Seperti contoh, seorang guru meletakkan 8 buah tongkat
dalam ukuran panjang yang berbeda dan guru meminta mereka untuk mengurutkannya.
Namun, anak –anak mengurutkannya berdasarkan ukuran ‘besar’ dan ‘kecil’
daripada mengurutkannya sesuai ukuran. Seharusnya pengurutannya berdasarkan
dari pendek ke panjang.
B.
MENGEVALUASI TAHAP OPERASI KONKRET PIAGET
Menurut Piaget, aspek yang berbeda pada tiap
tahap dapat muncul dalam waktu yang bersamaan. Faktanya, bagaimanapun kemampuan
concrete operational tidak dapat muncul secara sinkron. Sebagai contoh,
anak-anak tidak dapat belajar pengawetan secara bersamaan dengan belajar
klasifikasi silang.
Sejauh
ini, edukasi dan budaya memiliki pengaruh yang kuat dalam perkembangan anak
daripada apa yang Piaget kemukakan (Morrison, 2015).
Neo-Piagetions
berpendapat bahwa apa yang dikatakan Piaget adalah benar tetapi beberapa
teorinya memerlukan perbaikan. Mereka memberikan beberapa tekanan bagaimana
anak menggunakan atensi, memori dan strategi untuk memproses informasi (Case
& Mueller, 2001).
8.
CAKUPAN BERKEBUTUHAN KHUSUS
Anak
dengan kebutuhan khusus (special needs children) dapat diartikan secara
simpel sebagai anak yang lambat (slow) atau mengalami gangguan (retarded)
yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya.
Banyak
istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability,
impairment,dan handicaped. Menurut World Health
Organization (WHO), definisi masing-masing istilah adalah sebagai berikut:
A. IMPAIRMENT
Impairment
merupakan suatu keadaan atau kondisi di mana individu mengalami kehilangan atau
abnormalitas psikologis, fisiologis atau fungsi struktur anatomis secara umum
pada tingkat organ tubuh. Contoh seseorang yang mengalami amputasi satu
kakinya, maka dia mengalami kecacatan kaki.
B. DISABILITY
Disability
merupakan suatu keadaan di mana individu mengalami kekurangmampuan yang
dimungkinkan karena adanya keadaan impairment seperti kecacatan pada organ
tubuh. Contoh pada orang yang cacat kakinya, maka dia akan merasakan
berkurangnya fungsi kaki untuk melakukan mobilitas.
C. HANDICAPED
Handicaped merupakan ketidak beruntungan individu yang
dihasilkan dari impairment atau disabilityyang
membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada individu. Handicaped juga
bisa diartikan suatu keadaan di mana individu mengalami
ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Hal ini
dimungkinkan karena adanya kelainan dan berkurangnya fungsi organ individu.
Contoh orang yang mengalami amputasi kaki sehingga untuk aktivitas mobilitas
atau berinteraksi dengan lingkungannya dia memerlukan kursi roda.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan
karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu
menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam
ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras,
kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan
kesehatan.
karakteristik
dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus
yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra
mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu
berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya
bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya
masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB
bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk
tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.
9. JENIS-JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A. KELAINAN MENTAL TERDIRI DARI :
1. Mental Tinggi
Sering
dikenal dengan anak berbakatintelektual, di mana selain memiliki kemampuan
intelektual di atas rerata normal yang signifikan juga memiliki kreativitas dan
tanggung jawab terhadap tugas.
2. Mental Rendah
Kemampuan
mental rendah atau kapasitas intelektual (IQ) di bawah rerata dapat dibagi
menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar (slow learners) yaitu anak yang
memilki IQ antara 70 – 90. Sedangkan anak yang memiliki IQ di bawah 70 dikenal
dengan anak berkebutuhan khusus.
3. Berkesulitan
Belajar Spesifik
Berkesulitan
belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achivement) yang diperoleh siswa.
Anak berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang memiliki kapasitas
intelektual normal ke atas tetapi memiliki prestasi belajar rendah pada bidang
akademik tertentu.
B. KELAINAN FISIK MELIPUTI :
1. Kelainan Tubuh
(Tunadaksa)
Tunadaksa
adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh
kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit
atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy (kelayuhan otak), amputasi (kehilangan organ tubuh), polio, dan lumpuh.
Tingkat
gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam
melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi,
sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi
sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak
mampu mengontrol gerakan fisik.
2. Kelainan Indera
Penglihatan (Tunanetra)
tunanetra menurut adalah
individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari
6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra
memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran
menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran.
Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran
kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaantulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan
media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS.
3. Kelainan
Pendengaran (Tunarungu)
Tunarungu
adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun
tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran
adalah:
Ø Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB)
Ø Gangguan pendengaran ringan(41-55dB)
Ø Gangguan pendengaran sedang(56-70dB)
Ø Gangguan pendengaran berat(71-90dB)
Ø Gangguan pendengaran ekstrim/tuli(di atas 91dB)
Karena
memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam
berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara
internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara.
saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkankomunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan
bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung
kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.
4. Kelainan bicara
(Tunawicara)
Seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan
pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti
orang lain. Kelainan bicara ini dapat bersifat fungsional di mana mungkin
disebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya
ketidaksempurnaan organ bicara maupun adanya gangguan pada organ motoris yang
berkaitan dengan bicara.
10. ADHD (Attention Deficit and Hiperactivity Disorder)
ADHD
atau " Attention Deficit Hyperactivity Disorder "adalah salah satu
gangguan yang paling umum yang terjadi di masa kecil. Kondisi ini dapat terus
menjadi masa remaja, dan dalam beberapa kasus, sepanjang masa dewasa.
Kondisi
ini ditandai dengan berbagai jenis kesulitan. Yang paling masalah umum yang
terjadi adalah komplikasi yang terkait dengan memperhatikan, mengalami serangan
sedang sampai berat hiperaktif, dan isu-isu yang terkait dengan pengendalian
impuls yang berhubungan dengan perilaku.
A. BEBERAPA DEFINISI PENGERTIAN ADHD
ADHD didefinisikan sebagai:
Ø Gangguan perilaku neurobiologis yang ditandai dengan tingkat inatensi
yang berkembang tidak sesuai dan bersifat kronis dan dalam beberapa kasus
disertai hiperaktivitas.
Ø Gangguan biokimia kronis dan perkembangan neurologis yang mempengaruhi
kemampuan seseorang untukmengatur dan mencegah perilaku
serta mempertahankan perhatian pada suatu tugas .
Ø Inefisiensi neurologis pada area otak yang mengontrol impuls dan pada
pusat pengambilan keputusan (regulasi dan manajemen diri)
Dengan demikian
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dapat disimpulkan
“sebagai gangguan aktivitas dan perhatian (gangguan hiperkinetik) adalah suatu
gangguan psikiatrik yang cukup banyak ditemukan dengan gejala utama inatensi
(kurangnya perhatian), hiperaktivitas, dan impulsivitas (bertindak tanpa
dipikir) yang tidak konsisten dengan tingkat perkembangan anak, remaja, atau
orang dewasa”.
B. KARAKTERISTIK INATENSITAS (ADD)
Ø Mudah terganggu perhatiannya oleh lingkungan sekitar (suara,
gerakan)
Ø Terlihat tidak mendengarkan ketika diajak bicara
secara langsung
Ø Sulit memusatkan perhatian pada tugas dan
aktivitas bermain
Ø Lupa dengan aktivitas harian
Ø Tidak mengikuti perintah dan gagal untuk menyelesaikan
tugas sekolah atau pekerjaan (bukan karena tidak mengerti)
Ø Menghindar, tidak menyukai pekerjaan
yang membutuhkan usaha pemikiran seperti tugas sekolah
Ø Kehilangan benda-benda yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan tugas atau beraktivitas
Ø Sulit untuk mengorganisir tugas dan akitivitas
C. KARAKTERISTIK ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD)
Ø Selalu bergerak
Ø Sering gelisah dengan tangan atau kaki atau sering
bergerak-gerak saat duduk
Ø Sering meninggalkan tempat duduk saat di dalam kelas
atau situasi lain dimana duduk diam diperlukan atau diharapkan, mengharuskan
duduk lama.
Ø Sering lari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam
situasi yang tidak sesuai (tak bisa diam)
Ø Sering mengalami kesukaran mengikuti permainan atau
aktivitas yang membutuhkan ketenangan (main catur, halma dsb.)
Ø Selalu dalam keadaan bergerak atau sering melakukan
aktivitas seolah-olah mengendarai motor
Ø Sering berbicara berlebihan, banyak bicara
Ø Sulit bermain dalam keadaan tenang
11. INTELIGENSI
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk
bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi
lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa
inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir
secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara
langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang
merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
A.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTELIGENSI
1. Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa
korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2
anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti
lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 -
0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan
ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara
terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka
tidak pernah saling kenal.
2. Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada
dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan
perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari
otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain
gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan
juga memegang peranan yang amat penting.
B. INTELIGENSI DAN IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ,
padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti
inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang
diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi
mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan
seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur
mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan
individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes
kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada
pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh
skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan
IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan,
tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi
penurunan kemampuan.
C. PENGUKURAN INTELEGENSI
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor
Simon, 2 orang psikolog asal Perancis
merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi
siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai).
Alat tes itu dinamakan Tes
Binet-Simon. Tes ini kemudian
direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan
dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang
menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan
chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet.
Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman
yang bernama William Stern,
yang kemudian dikenal dengan Intelligence
Quotient atau IQ. Tes
Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai
usia 13 tahun. Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet
adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini.
Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari
satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari
faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini
adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak. Di samping alat-alat tes di atas, banyak
dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan
dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.
12. PERKEMBANGAN BAHASA
Bahasa adalah
sebuah sistem komunikasi yang terdiri atas kata-kata dan simbol-simbol yang
digabungkan dalam suatu aturan dan digunakan untuk menghasilkan pesan dalam
jumlah tak terbatas. Bahasa menyediakan berbagai macam keperluan untuk anak
anak yang sedang berkembang; yang membantu dia berintaksi dengan orang lain.
Bahasa memberikan berbagai macam keperluan untuk periode anak yang sedang
berkembang, yang membantu anak dalam berinteraksi dengan orang lain, mengkomunikasikan
informasi, mengekspresikan perasaannya, keinginan, dan pandangan.
Anak-anak dapat menggunakan bahasa untuk
mempengaruhi perilaku orang lain, untuk mengeksplorasi dan belajar tentang
lingkungan mereka, dan untuk diri dari kenyataan dengan menggunakan imajinasi
mereka. Bahasa membantu anak untuk mengatur persepsi dan pemikiran,
mengendalikan tindakan mereka, dan bahkan untuk memodifikasi emosi mereka. Salah
satu bagian terpenting dalam proses belajar pada perkembangan anak adalah
pengembangan komunikasi komunikatif dimana anak anak mengalami kemampuan dalam
menyampaikan pikiran, perasaan, dan niat dalam cara yang berarti dan budaya.
Komunikasi didefinisikan kedalam dua proses yaitu kita mengirim dan menerima
pesan kepada orang lain.
A. KOMPONEN-KOMPONEN DALAM BAHASA
1.Fonologi(Phonology)
Fonologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bunyi atau fonem, termasuk aturan-aturan yang digunakan untuk membentuk kata.Fonem adalah bunyi bahasa yang berbeda atau mirip kedengarannya dan disebut sebagai dasar dalam bahasa karena dapat mempengaruhi makna,dan mengubah arti dari sebuah kata. Misalnya “pola” dengan “bola”.
Fonologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bunyi atau fonem, termasuk aturan-aturan yang digunakan untuk membentuk kata.Fonem adalah bunyi bahasa yang berbeda atau mirip kedengarannya dan disebut sebagai dasar dalam bahasa karena dapat mempengaruhi makna,dan mengubah arti dari sebuah kata. Misalnya “pola” dengan “bola”.
2.Semantik(Semantics)
Semantik merupakan ilmu yang mempelajari tentang makna dan kombinasi kata seperti pada frasa, klausa, dan kalimat. Pemahaman bahasa memerlukan bukan hanya pengetahuan, dan arti dari kata-kata tertentu, tetapi juga pemahaman tentang bagaimana kita menggunakan kata-kata dan bagaimana kita menggabungkan mereka dalam frasa dan kalimat. Dengan demikian sebagai manusia yang terus mengalami perubahan, maka pengetahuan semantik pun terus berkembang. Misalnya sebagai mahasiswa baru di Fakultas Psikologi, harus mempelajari kosa kata dari segi psikologis.
Semantik merupakan ilmu yang mempelajari tentang makna dan kombinasi kata seperti pada frasa, klausa, dan kalimat. Pemahaman bahasa memerlukan bukan hanya pengetahuan, dan arti dari kata-kata tertentu, tetapi juga pemahaman tentang bagaimana kita menggunakan kata-kata dan bagaimana kita menggabungkan mereka dalam frasa dan kalimat. Dengan demikian sebagai manusia yang terus mengalami perubahan, maka pengetahuan semantik pun terus berkembang. Misalnya sebagai mahasiswa baru di Fakultas Psikologi, harus mempelajari kosa kata dari segi psikologis.
3.TataBahasa(Grammar)
Tata Bahasa menjelaskan tentang struktur dari bahasa, dan terdiri dari dua bagian utama, yaitu: morfologi dan sintaksis. morfologi berkonsentrasi pada unit terkecil dari makna dalam bahasa. seperti prefiks, sufiks. dan akar kata. Unit-unit ini disebut morfem. Sintaksis merupakan aspek dari bahasa mengkhususkan kepada bagaimana kata dikombinasikan kedalam frasa, klausa, dan kalimat. Misalnya, setiap bahasa memiliki aturan sintaksis yang mengungkapkan tentang hubungan ketatabahasaan seperti negasi, kepemilikan interogasi, dan penyusunan subyek dan obyek dalam pernyataan.
Tata Bahasa menjelaskan tentang struktur dari bahasa, dan terdiri dari dua bagian utama, yaitu: morfologi dan sintaksis. morfologi berkonsentrasi pada unit terkecil dari makna dalam bahasa. seperti prefiks, sufiks. dan akar kata. Unit-unit ini disebut morfem. Sintaksis merupakan aspek dari bahasa mengkhususkan kepada bagaimana kata dikombinasikan kedalam frasa, klausa, dan kalimat. Misalnya, setiap bahasa memiliki aturan sintaksis yang mengungkapkan tentang hubungan ketatabahasaan seperti negasi, kepemilikan interogasi, dan penyusunan subyek dan obyek dalam pernyataan.
4.Pragmatik(Pragmatic)
Pragmatik merupakan seperangkat aturan yang menspesifikasikan bahasa yang sesuai untuk konteks sosial tertentu. Jadi, pragmatik secara langsung menyangkut komunikasi yang efektif dan tepat.
Pragmatik merupakan seperangkat aturan yang menspesifikasikan bahasa yang sesuai untuk konteks sosial tertentu. Jadi, pragmatik secara langsung menyangkut komunikasi yang efektif dan tepat.
B.
PERKEMBANGAN BAHASA PADA MASA KANAK-KANAK TENGAH
1. Kosa kata telah berkembang
Kosa
kata telah berkembang dimana kemampuan anak untuk menggunakan kata-kata seperti
kata kerja bertambah, seperti dalam menggambarkan suatu tindakan seperti
memukul, menampar, menggebuk, menghantam. Anak-anak mengerti bahwa sebuah kata
memiliki lebih dari satu makna, dan mengetahui dalam konteks mana itu
dimaksudkan.
2. Pengunaan tata
bahasa
Dalam
penggunaan tata bahasa, anak anak pada masa ini belum menggunakan kata-kata
berbentuk pasif, bentuk kata yang mencakup kata bantu have, dan kalimat bersyarat.
3. Pragmatik
(pragmatics)
Pragmatik
(pragmatics) merupakan wilayah utama pertumbuhan linguistik selama masa-masa
sekolah. Anak- anak pada usia ini dapat mengenali kegagalan komunikasi dengan
cepat dan melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Komunikasi anak-anak juga
lebih kolaboratif ketika bekerja dengan pasangan yang berjenis kelamin sama.
13. PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL
13. PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL
Perkembangan emosi dan sosial pada
anak ditentukan oleh kualitas
hubungan anak dan keluarga.
Gaya pengasuhan yang berbeda pada setiap orangtua akan mempengaruhi.
a. Kepribadian
anak
b. Kegiatan
bermain
A. KELUARGA
Hal-hal yang
mempengaruhi perkembangan emosi dan sosial dalam keluarga :
Ø
Gaya pengasuhan
Gaya pengasuhan orang tua, secara
relatif stabil untuk jangka waktu yang cukup lama.
Ø
Hubungan Antar
Saudara
Hubungan anak dengan orangtua
lebih positif dan bervariasi dari pada dengan saudara kandung.
Ø
Keluarga yang berubah
Tak selalu keluarga utuh. Perceraian menyebabkan
keluarga berubah. Kondisi-kondisi yang membawa pengaruh terhadap perkembangan
sosial anak :
Ø
Perceraian
Perceraian adalah peristiwa yang
sangat emosional dan membenamkan anak ke dalam konflik.
B. TEMAN SEBAYA
Salah satu fungsi
terpenting teman sebaya adalah sebagai sumber informasi dan bahan pembanding di
luar lingkungan keluarga.Melalui teman anak memperoleh umpan balik tentang
kemampuan yang dimilikinya.
C. BERMAIN
Bermain merupakan hal
yang essensial bagi kesehatan anak. Adapun manfaat bermain adalah
Ø
Meningkatkan
kerjasama, tanggung jawab.
Ø
Menghilangkan
ketegangan
Ø
Meningkatkan
perkembangan kognitif
Ø
Meningkatkan
eksplorasi
Ø
Memperluas kesempatan
bagi anak untuk mengobrol dan berinteraksi dengan teman sebaya.
D.
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
1. Jati diri
Jati diri adalah dimana anak merasa bahwa dirinya adalah miliknya sendiri dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Misalnya : Kasih saying dan pujian yang diberikan oleh orangtua kepada anak akan membentuk jati diri yang positif.
2. Peran jenis kelamin
Peran jenis kelaminadalah salah satu harapan yang
bersifat sosial tentang bagaimana seseorang harus bertindak dan berfikir baik
sebagai perempuan ataupun sebagai laki-laki, misalnya : seorang anak laki-laki
menginginkan benda dan mainan laki-laki.
3.Perkembangan moral
Perkembangan moral, hal ini berkaitan dengan peraturan dan kebiasaan yang
seharusnya dilakukan oleh seseorang dalam rangka berhubungan dengan orang
lain.
E.
DISIPLIN
Disiplin
adalah suatu pembatasan yang dikenakan kepada anak dalam rangka pendidikan
anak, ada beberapa bentuk disiplin yang biasa diterapkan orang tua yaitu :
1. Disiplin
dengan pemaksaan
disiplin ini
dilaksanakan dengan cara : hukuman fisik, pemaksaan dan kekuasaan secara
langsung, mengurangi pemberian materi, membatasi previllese.
2. Disiplin tanpa
paksaan
Disiplin tanpa
paksaan adalah konsekuensi disiplin terhadap perilaku anak. Ada dua teknik
disiplin yang tergolong jenis ini, yaitu ;
Ø Tehnik disiplin yang berbentuk
cinta-menolak. Dalam hal ini orangtua tidak memberikan hukuman fisik melainkan
dengan cara : mengabaikan, menunjukan ketidaksenangan.
Ø Tehnik Pembawa, yaitu tehnik
mendisiplinkan anak dengan cara memberi penjelasan atau alasan mengapa anak
harus mengubah tingkah laku mereka.
No comments:
Post a Comment